Ketika saya memulai karir saya sebagai konselor tidak pernah terbayang bahwa kehidupan saya begitu kaya. Kaya atas pengalaman orang lain yang mengalami masalah, kaya karena mendengarkan orang lain yang datang pada saya, kaya karena saya belajar tentang kehidupan itu sendiri.
Ternyata saya kaya karena saya mendengarkan mereka. Mendengarkan membuat saya merasa hidup saya menjadi indah. Saya mudah bersyukur pada Tuhan karena hidup saya tidak sesulit kehidupan klien saya yang menceritakan kehidupan dan persoalannya kepada saya. Hidup saya menjadi lebih bermakna karena saya bisa melakukan sesuatu untuk para klien saya dengan mendengarkan. Makna itu semakin terasa karena saya merasakan betapa Tuhan sungguh baik…
Karena saya sering mendapatkan klien pasangan suami istri yang memiliki persoalan dalam pernikahannya, maka kehidupan pernikahan sayalah yang sering saya refleksikan. Ketika seorang istri datang dengan mengeluh bahwa suaminya tidak pernah bisa memahami dia…saya mencoba mendengarkan dengan hati dan pikiran saya, apa yang sesungguhnya terjadi dengan dia? Suaminya mengatakan hal serupa, istrinya tidak bisa mendengarkannya dan tidak pernah menghargainya. Tuntutan demi tuntutan menjadi kesehariannya. Suami ini juga merasa bahwa istrinya tidak menghormatinya karena seringkali melakukan semua kegiatannya tanpa mengkomunikasikan kepadanya. Pasangan ini datang cukup sering ke tempat praktek konseling saya. Kehadiran mereka memang membuat saya bekerja keras untuk memahami persoalan hidup pernikahan mereka serta karakter masing-masing. Namun selain memahami karakter mereka, sayapun belajar sesuatu dari mereka, kehidupan perkawinan saya sendiri.
Dari pasangan ini saya melihat ke dalam kehidupan saya. Apakah saya setia dan menghormati suami saya walaupun saya juga sering merasa tidak puas padanya? Nampaknya saya memang harus bercermin bahwa kebahagiaan perkawinan bukanlah sekedar anugerah dari Tuhan, tapi harus diperjuangkan. Tuhan sudah membantu saya mengambil keputusan penting dalam hidup ini yaitu menikah dengan suami saya. Namun, apakah kami berdua menikmati setiap anugerahNya dan merasakan kebahagiaan dalam perkawinan? Saya harus terus merefleksikannya. Pengalaman para klien saya membantu saya dalam proses refleksi tadi. Dengan mendengarkan mereka, saya mencoba belajar untuk melihat apa yang masih harus saya perjuangkan dalam pernikahan saya sendiri.
Mendengarkan dalam konseling merupakan inti dari konseling itu sendiri. Tidak mungkin ada solusi sebuah masalah yang diperlukan oleh klien kalau saya sebagai konselor tidak mendengarkan. Kedewasaan hidup menjadi seorang konselor juga bukan karena sudah berapa tahun saya hidup saja, tapi karena sudah berapa banyak pengalaman hidup orang-orang saya dengarkan di ruang konseling. Kekayaan yang saya sebut di ataslah yang membuat hidup ini buat saya menjadi semakin indah….Saya memang bersimpati pada semua klien saya, tapi terlebih lagi saya belajar menikmati semua proses konseling itu karena saya belajar sesuatu dari mereka. Mungkin terdengar agak aneh bahwa sesungguhnya saya berterimakasih pada mereka karena merekalah yang membantu saya menghargai suami saya, anak-anak saya, orang tua saya, pekerjaan saya dan akhirnya hidup saya.
Dari para klien yang datang ke ruang konseling inilah saya melihat bahwa tidak ada manusia yang tidak mengalami masalah dalam hidupnya. Pertanyaannya bagaimana manusia melihat pengalaman hidup dan segala pernik persoalannya sebagai sumber makna hidupnya atau sebaliknya sebagai hanya sekedar masalah yang membuatnya membenci hidupnya atau lebih ekstrim lagi membenci Tuhan yang kata mereka, telah membuat hidup mereka berantakan…..
Saya tidak pernah mau menyalahkan hidup saya, apalagi Tuhan…Bagaimana mungkin, ketika saya sedang mengalami masalah dalam pekerjaan, dengan anak-anak, dengan mertua, dengan suami,…maka praktek konseling atau cerita-cerita klien sayalah yang akhirnya memberikan perspektif lain memandang kehidupan saya. Hidup saya menjadi lebih bermakna, seperti yang dikatakan oleh Frankl, bahwa sumber makna hidup juga dapat kita peroleh dari apa yang kita ‘ambil’ dari dunia ini (experiential values), nilai-nilai pengalaman. Memaknai pengalaman dengan alam semesta, dengan orang lain, dengan Tuhan dsb….Saya sungguh merasakan itu.
Melalui perjumpaan saya dengan para klien saya, yang kebetulan datang dengan persoalan rumah tangga dan pernikahan, maka saya tidak terlalu mudah menyalahkan Tuhan atas masalah perkawinan saya. Saya mencoba untuk melihat bahwa perkawinan saya memang tidak sempurna, perkawinan siapa sih yang sempurna…Tapi setidaknya, saya merasa lebih beruntung dari Ibu dan Bapak yang saya ceritakan di atas yang pada akhirnya pernikahannya tidak bisa diselamatkan karena masing-masing tidak mau mencari titik temu….Kasihan mereka, kasihan anak mereka. Saya tidak mau anak-anak saya menjadi bingung dengan kebingungan saya atau suami saya….Saya ingin anak-anak menjadi individu yang memiliki rasa aman tumbuh dalam keluarga yang utuh dan harmonis…Dari mana saya mendapatkan komitmen itu? Dari para klien saya…dari proses mendengarkan di ruang konseling. Itu sebabnya saya harus berterimakasih pada mereka. Merekalah yang membuat saya bisa menikmati hidup ini, terutama mensyukuri pernikahan saya…..
Itu sebabnya saya percaya bahwa mendengarkan itu adalah proses untuk belajar tentang hidup. Mendengarkan memang indah, seindah hidup ini.




